|
Dua dari Tiga Film Dokumenter Hasil Workshop ! |
|
|
|
|
Ditulis oleh Tonny Trimarsanto
|
|
Minggu, 11 April 2010 08:12 |
2 dari 3 Film Dokumenter : Hasil Workshop !! “Potere”, bagi saya adalah sebuah film yang menarik, dari Festival Film Dokumenter 2009 lalu. Film karya Arfan Sabran dari Makasar ini, mencoba menyuguhkan sebuah desain film dokumenter yang tidak biasa. Tema yang disodorkan sehari hari. Tentang dua orang anak yang mempunyai mimpi yang berbeda. Mereka sama sama bekerja di pasar ikan dekan pantai. Satu anak punya mimpi ingin menjadi pemain bola, dengan membeli sepatu. Anak yang lain, ingin bisa memakai baju koko saat lebaran. Kisah yang sederhana. Ada lagi, film “Gorila dari Gang Buntu”. Film karya Teguh Budi dari Semarang. Menjadi menarik, lucu, komikal namun satir. Yakni merekam mimpi para pekerja perkotaan tentang definisi tubuh laki laki. Tubuh yang kekar dan berotot. Film ini tidak masuk menyodorkan imajinasi ruang fitness ber-AC yang isinya karyawan kelas menengah perkotaan yang ingin tampil dengan tubuh atletis dan menarik Justru yang disodorkan adalah adanya perlengkapan fitneas yang dikelola secara tradisional, dengan alat sederhana bikinan seorang tukang las jalanan, tidak ada tariff sewa dan siapapun bisa mengakses. Dua film ini menjadi unik. Mungkin juga membuat banyak penikmat film kaget. Namun, jujur kesan kekaguman itu menjadi cair setelah mengetahui bahwa dua film itu hasil sebuah pelatihan, workshop film dokumenter. Yang menjadi perdebatan panjang adalah, persoalan identitas dan keutuhan karya film. Sebab, sanggahan dan perdebatannya makin panjang dan kompleks tentang dokumenter Indonesia itu sendiri. Catatannya adalah film menarik, yang lahir dari sebuah workshop. Lalu, adakah yang salah dengan workshop film dokumenter ? *** Saya melihat bahwa, film dokumenter di Indonesia telah mencatat jumlah yang tinggi dibandingkan dengan sepuluh tahun yang lalu. Film dokumenter menjadi satu medium yang mulai diakrabi oleh siapapun. Tetapi, ini bukan persoalan popularitas yang pada akhirnya bisa disandingkan dengan film layer lebar tentunya –film fiksi. Yang paling menarik adalah, lebih kurang 70% film film dokumenter Indonesia dihasilkan dari ruang kelas, ruang workshop. Terungkap bahwa, dalam sepuluh tahun terakhir, banyak lembaga-lembaga yang mulai memfasilitasi workshop film dokumenter. Penyelenggara workshop adalah lembaga ataupun komunitas film. Pesertanya juga beragam. Setidaknya ada lembaga In-Docs (Indonesian Documentary), LKIS, Kampung Halaman, stasiun televisi Metro TV, forum LSM lokal ataupun yang tingkat nasional. Bahkan yang menarik, masuknya donor asing, kedutaan besar Negara asing yang ada di Indonesia, yang secara langsung bisa memfasilitasi program workshop. Singkatnya, siapapun bisa mengadakan dan membuat program workshop sejauh ada : dana, tempat dan peserta. Soal materi, modul dan ideology, itu soal nanti. Setidaknya ada beberapa hal yang bisa dicatat. Pertama, workshop telah mendorong pertumbuhan jumlah. Baik jumlah film yang dihasilkan ataupun mengangkan nama nama baru pembuat film. Sekadar contoh, lebih dari lima tahun stasiun Metro TV membuat workshop film dokumenter Eagle Award. Setiap tahun ada 10 nama sutradara baru yang dihasilkan. Ini baru satu lembaga. Belum lagi, lembaga lembaga ataupun LSM yang setiap tahun dapat melakukan lebih dari satu kegiatan workshop. Atau yang lebih menarik adalah, komunitas komunitas film tingkap kabupaten, telah mampu memfasilitasi pelatihan pembuatan film dokumenter. Bukankah ini menakjubkan ? Kedua, pelatihan pembuatan film dokumenter tengah menuju ke arah formalisasi. Artinya, jika anda ingin menjadi pembuat film dokumenter, workshop adalah jalan yang tepat. Sebab, jalur workshop telah membuka jejaring baru, akses baru dengan mereka mereka yang ada di dunia film dokumenter. Setidaknya ada asumsi bahwa, melalui satu pelatihan ini, menjadi jaminan pada karya karya selanjutnya. Tetapi, faktnya tidak demikian. Tak banyak lulusan “akademi” workshop yang akhirnya benar benar menjadi pembuat film dokumenter. Ketiga, workshop film adalah sebuah program yang seksi untuk dijual. Film adalah media baru. Sehingga, banyak lembaga yang tertarik untuk menggunakan film sebagai media dalam definisi apapun. Alhasil, banyak lembaga yang mengadakan workshop. Arahnya, booming workshop. Isu apapun dicoba dikait-kaitkan dengan media film. Fungsional atau tidak, yang penting menjadi program. Maka, lantaran booming, terdapat indikasi bahwa beberapa lembaga mulai mencoba lebih selektif dalam memilih calon peserta workshop. Ada kualifikasi tertentu. Ini tidak mudah. Lantaran peserta yang lebih terseleksi, maka yang menjadi peserta workshop adalah, mereka mereka yang pernah mengikuti workshop dari lembaga lain. Dengan kata lain, peserta-nya sama, lembaga penyelenggaranya yang berbeda. Jadi peserta sudah saling mengenal, hanya tema dan isu film yang dikerjakan menjadi berbeda. Lantaran, lembaga penyelenggaranya adalah dari lembaga yang berbeda pula. *** Memang, ada aspek positif. Pengenalan ketrampilan membuat film dokumenter sudah dimulai sejak awal. Tentu ini akan sangat menggembirakan. Upaya untuk memfasilitasi produksi bisa terukur. Menjadi nyaman untuk sebuah proses pertumbuhan. Bisa jadi, persoalannya bukan hanya sekadar tingkat kenyamanan tumbuh yang sudah terfasilitasi. Yang lebih menarik adalah, bagaimana mengukur film dokumenter sebagai sebuah karya. Faktanya, 2 dari 3 film dokumenter Indonesia yang berhasil masuk kompetisi festival film dokumenter, adalah hasil workshop. Saya ingat, percakapan dengan Mariana Yarosvkaya. Seorang sutradara kelahiran Rusia yang kini bermukim di Amerika. Ia sempat kagum dengan jumlah pertumbuhan film dokumenter di Indonesia. Jumlah yang luar biasa, dengan tema yang menurutnya beragam dan menakjubkan. “Teman teman di sini sangat mapan, jadi bisa membuat film apa saja”, ungkapnya. Tetapi satu hal yang tidak dia tahu adalah, banyak film dokumenter itu hasil dari workshop. Dimana peserta mendaftar, terseleksi dan datang dengan idenya. Soal uang produksi dari mana tak jadi soal. Soal film itu karya siapakah sesungguhnya, yang berhak mengaku bukan hal yang layak untuk diperdebatkan. Kemudian Mariana Yarosvkaya mengungkapkan, ingin ke China untuk produksi film terbarunya. Wah, sangat mapan sutradara ini, pikir saya. Namun, dugaan saya meleset. Ia bertanya, “ Anda bisa membantu mencarikan dana untuk film saya di Indonesia ?” Saya kaget, sutradara sekelasnya yang sudah meraih penghargaan internasional masih dibuat bingung dengan persoalan dana produksi filmnya. Saya-pun sadar, mungkin workshop menjadi jalan untuk bisa membuat film. Lebih mudah mengerjakannya. Anda punya ide silahkan mendaftar, asal, ide itu sesuai dengan tema besar penyelenggara workshop. Bukankah demikian faktanya ? *******
|
|
|
Mari Berpoligami dengan Dana Rekonstruksi |
|
|
|
|
Ditulis oleh Tonny Trimarsanto
|
|
Sabtu, 12 Desember 2009 00:00 |
|
Bagong, seorang bapak. Tepatnya, penarik. Rumahnya hancur, karena gempa Yogyakarta 2006. Mereka, sekeluarga hidup ditenda, karena tak ada pilihan lain. Akhirnya, dana rekonstruksi sejumlah 5 juta yang ditunggu tunggu bagi korban gempa Yogyakarta diberikan pemerintah. Bagong dan keluarganya, bolehlah lega. Tetapi, oleh Bagong dana itu akan digunakan untuk menikah lagi. Artinya, Bagong, ingin menikah kembali, alias berpoligami. Dana rekonstruksi, menjadi sponsor tunggal, pernikahannya yang kedua.
Itulah, salah satu tema film di kategori kompetisi di Festival Film Dokumenter (FFD) Yogyakarta 2007. Sebuah film unik, karya dari Rabenir, dengan judul Serpihan hati. Film ini, terpilih untuk dijadikan salah satu materi bedah dalam sesi Master Class, dengan mendatangkan sutradara –kurantor dari India Anand Partwadan. Serta Peter Wintonic dari Canada. Sebagai sebuah film dokumenter, film ini mempunyai keunikan. Ada kecerdasan untuk menangkap sebuah isu, untuk dikemas dalam film dokumenter.
|
|
Selengkapnya...
|
|
Ditulis oleh Tonny
|
|
Rabu, 20 Agustus 2008 10:11 |
|
Menjadi sutradara, tentu profesi yang menggiurkan. Ada gengsi kreatif di dalamnya. Namun, apa hanya sekadar itu? Tentu tidak! Seorang dengan predikat sutradara, paling tidak ada beban kerja yang cukup kompleks, sebagai tanggung jawabnya. Ia bukan sekadar mempunyai kapasitas kreatif. Kemampuan untuk mengorganisir orang, ketrampilan teknis dan bekal pengetahuan, paling tidak menjadi bekalnya.
Saat ini, dengan terjadinya lompatan teknologi, membuat film –konon katanya- menjadi lebih mudah. Dan, katanya lagi, membuat film itu gampang ! Siapapun bisa punya film. Siapa saja ber-hak menyandang predikat sutradara. Tetapi, apa hanya semudah ini. Barangkali akan menjadi mudah, dengan sejumlah prasarat, tentunya.
Jika ingin menjadi sutradara, setidaknya ada beberapa hal yang patut diketahui. Bahwa membuat film itu ada proses, ada fasenya-fase tahapan yang akan dilewati. Ada tiga tahapan besar, ketika kita ingin membuat film. Yakni, pra produksi (ide-cerita, mencari-mengumpulkan uang, riset, penulisan script, mencari pemain, penentuan alat), produksi (shooting di lapangan itu sendiri) dan paska produksi (editing, mixing, distribusi). Tahapan, yang punya beban kerja, yang berprogres untuk menjadi satu film.
Ide-cerita, seorang sutradara harus tahu seperti ide apa yang akan dijadikan film. Ide bisa datang darimanapun. Kita melihat peristiwa di jalan, pengalaman orang lain, bisa juga dari kecemasan-ketakutan kita, buku, media massa atau yang lain. Dari mana pun, atau dalam kondisi apapun, ide itu bisa muncul dan ditemukan. Namun, bagaimana ide itu di tangan sutradaranya bisa menjadi film?
|
|
Selengkapnya...
|
|
|
Selamat Menikmati :Kematian! |
|
|
|
|
Ditulis oleh Catatan
|
|
Senin, 11 Agustus 2008 04:22 |
|
Amnesty International Film Festival (AIFF) Amsterdam 2008 Anna Politskovkaya, adalah wartawati dari harian Novaya Gazeta. Sebuah harian berpengaruh, di Rusia. Hidup Anna, adalah dedikasi kerja untuk selalu mengangkat isu hak asasi dan kemanusiaan, yakni pada pelanggaran pelanggaran yang terjadi di Rusia pada setiap liputan jurnalistiknya. Suatu pagi, Anna ditemukan tewas, dilantai partemennya pada bulan Oktober 2006. Kematian Anna, sebuah duka bagi kebebasan media dan hak umat manusia. Anna Politskovkaya, dimata sutradara perempuan Masha Novikova adalah sebuah inspirasi. Maka, lahirlah film dokumenter tentang sosok wartawati Anna, dengan judul Anna: Seven Years on The Frontline. Karya Masha Novikova dengan durasi 78 menit ini, menjadi film pembuka, dari 10th Amnesty International Film Festival ( AIFF ) Amsterdam 2008. Anna: Seven Years on The Frontline dipilih, lantaran, tema besar yang dikampanyekan oleh AIFF tahun ini adalah “Festival for Human Right Activist”. Film yang akan senantiasa dikenang, karena begitu beresiko menjadi seorang yang bertanggungjawab pada aspek aspek kebenaran dan kemanusiaan. Dan sampai film itu selesai dikerjakan, kasus kematian Anna tidak pernah lagi terpublikasikan kelanjutannya. Film Anna: Seven Years on The Frontline , memang memesona. Namun, ada begitu banyak film yang memang menarik untuk dicermati. Karya Louise Hogarth, yakni Angels in The Dust, menjadi sebuah karya yang monumental, dan akhirnya menjadi Best Film dalam kompetisi AIFF tahun ini. Film Angels in The Dust, menurut penulis layak untuk memenangi penghargaan paling tinggi. Lantaran, ada ketrampilan, kecerdasan dan sebuah kesabaran dalam membuat film. Film ini diproduksi lebih dari 5 tahun dan hasilnya :menakjubkan.
|
|
Selengkapnya...
|
|
Ditulis oleh Tonny
|
|
Sabtu, 07 Juli 2007 09:54 |
|
Pada mulanya adalah film Kreativitas, katanya, sebuah dunia tanpa batas. Kreativitas, akan mendorong bentuk-bentuk penemuan. Penemuan inilah yang mendorong produktivitas. Proses kreatif dan mencipta, akan melahirkan pertumbuhan-pertumbuhan baru. Mesin kreativitas hanya akan berjalan manakala terdapat beragam bentuk gagasan-gagasan sebagai bahan bakunya. Dunia gagasan senantiasa bertaut dengan apa yang mendorong lahirnya penemuan-penemuan baru itu.
Film dokumenter, awalnya berangkat dari satu gagasan. Yang lantas, melalui sebuah proses kreatif. Dunia gagasan akan menjadi sumber lahirnya beragam bentuk film dokumenter. Ketika kita menikmati film dokumenter, maka yang ditonton adalah dunia gagasan. Pembuat film dokumenter, berupaya untuk mencoba mengkomunikasikan ide-idenya, lewat perpaduan antara gambar dan suara. Sebuah dunia cangkokan, yang rasanya, lebih lengkap. Ada gambar, ada suara dan karakter. Pembuat film dokumenter ingin memberikan sebuah peyakinan kepada penontonnya tentang apa yang ia rekam.
|
|
Selengkapnya...
|
|
|
|
|
<< Mulai < Sebelumnya 1 2 Selanjutnya > Akhir >>
|
|
halaman 1 of 2 |